3 Langkah Menjadi Muslim yang Rahmatan Lil ‘Alamin

Demi mewujudkan misi Madina Qur’an dalam menjaga keberkahan di lingkungan mitra dan perusahaan, setiap Jum’at pagi kami mengadakan Kajian Islam Intensif (KII), yang akan diisi oleh para pembicara inspiratif dan kaya akan ilmu.

Belajar dari Sosok Wakil Ketua MPR-RI

Pada kesempatan KII kali ini, Madina Qur’an berkesempatan untuk menghadirkan Dr. K.H. Hidayat Nur Wahid, M.A. selaku Wakil Ketua MPR-RI.

Tentu saja, beliau menyampaikan tentang sesuatu yang menambah wawasan keislaman dan keimanan para jama’ah. Yaitu, tentang mengokohkan Islam rahmatan lil ‘alamin dan bagaimana pengaplikasiannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dokumentasi Madina Qur’an

Mengokohkan Islam Rahmatan lil ‘alamin

Rahmatan lil ‘alamin adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap alam semesta. Ya, dunia ini dan seisinya, termasuk kita yang ada didalamnya.

Ketika berbicara tentang rahmat, kita bisa merujuk kepada surat Al-Anbiya ayat 107, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

Rasulullah hadir ditengah-tengah kekacauan yang terjadi di muka bumi, untuk menyebarkan iman, Islam, ihsan. Dan kita sebagai umatnya, sudah seharusnya untuk kita turut serta menjalankan misi Rasulullah SAW tersebut.

Pertanyaan selanjutnya, lalu bagaimana caranya?

Pertama, semangat untuk memegang teguh prinsip rahmatan lil ‘alamin.

Untuk menjadi pribadi-pribadi yang dalam dirinya melekat rahmatan lil ‘alamin, tentunya kita harus punya semangat. Semangat menerapkan hal-hal baik dalam kehidupan kita.

“Di tengah isu-isu buruk yang sedang terjadi, seharusnya kita memiliki semangat untuk melakukan kebaikan, bukan terus menghakimi orang lain dengan mengkafirkan atau membid’ahkan orang lain,” terang Dr. K.H. Hidayat Nur Wahid, M.A.

Dari rasa semangat inilah, kita bisa bergerak untuk melakukan langkah selanjutnya untuk menjadi muslim yang rahmatan lil ‘alamin.

Kedua, membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya.

Dalam surat yang pertama kali turun, Rasulullah sudah disuruh untuk “iqro” (membaca). Dengan jelas Rasul mengatakan bahwa dirinya tidak bisa membaca. Makna membaca bukan berarti hanya membaca apa yang tertulis, melainkan juga membaca apa yang tersirat.

Di zaman Nabi Muhammad SAW., meski masyarakatnya tidak banyak yang bisa membaca, mereka mampu mempelajari Al-Qur’an dengan mengandalkan hafalan yang dimiliki.

“Ya malu kalau kita di zaman sekarang, bisa baca tulis dengan baik tapi masih enggan mempelajari Al-Qur’an dan menerapkannya,” ujar beliau.

Jika kita benar-benar menginginkan menjadi generasi yang cerah, pribadi yang rahmatan lil ‘alamin, terus dekatkan diri dengan Al-Qur’an.

Dokumentasi Madina Qur’an

Ketiga, qiyamul lail dan mengimplementasikan apa yang dipelajari.

“Sudah rutin membaca Al-Qur’an? Terus lakukan disaat qiyamul lail. Renungkan apa yang dipelajari dalam Al-Qur’an, sehingga ini akan mengakar menjadi akhlak,” nasihat dari ustaz Hidayat Nur Wahid.

Akhlak inilah yang akan menjadi kunci untuk kita menjadi muslim rahmatan lil ‘alamin. Kita akan berpedoman pada akhlak yang baik, yaitu yang sesuai dengan as-sunnah dan Al-Qur’an, bukan hanya mengikuti standar manusia yang subjektif.

Ketika nilai-nilai Islam sudah kita terapkan dengan baik, hal-hal disekitar kita juga akan membaik. Akan lahir generasi-generasi rahmatan lil ‘alamin, yang akan menjadi rahmat bagi kualitas hidupnya, keluarga, lingkungan, bisnis, hingga masyarakat luas.

***

Tentang Madina Qur’an

Madina Qur’an, brand Al-Qur’an yang didesain stylish dan exclusive sesuai dengan karakter diri konsumen, tampilan yang menarik, dan tentunya bahan berkualitas. Madina Qur’an menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan kepercayaan diri untuk setiap pemakainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *