Merawat Pohon dalam Diri Kita

Inspirasi

Sahabatku, menjadi seorang insan yang diridhai Allah sama dengan perbaikan diri tiada henti. Tak selayaknya kita merasa adalah yang terbaik. Kita hanya perlu melakukan yang terbaik; dan biarkan Allah yang menilai segenap niat, proses, hingga hal-hal terkecil yang tak terpikir oleh diri; dan memberikan reward sesuai kehendak-Nya.

Salah satu hal yang perlu kita perhatikan dalam perjalanan mardhotillah itu adalah merawat sebuah pohon yang ada di dalam diri kita. Percayakah Anda, bahwa di dalam diri kita masing-masing ada sebuah pohon yang tumbuh? Ya, tak perlu mengerenyitkan dahi karena kita sama-sama paham bahwa itu adalah kiasan saja. Ingatkah sahabat pada ayat-ayat ini?

“Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah telah membuat suatu perumpamaan.
Kalimat yang baik adalah umpama pohon yang baik. Akarnya teguh dan cabangnya sampai ke langit. Ia memberikan buahnya di setiap musim dengan izin Rabb-nya.”

(QS Ibrahim [14]: 24-25)

Semoga kita senantiasa seperti pohon itu; akarnya yang bernama aqidah menghujam teguh dan kuat dalam sanubari kita. Akar ini menopang dahan-dahan ibadah kita yang semakin menjulang hingga ke langit.

Lalu hidup kita pun akan semakin manis ketika pohon itu mulai berbuah ranum. Itulah akhlaq. Tak perlu menunggu musim tertentu untuk berbuah karena seyogyanya seorang mukmin memberikan buahnya di setiap musim, di setiap keadaan biidznillah. Semua sisi kehidupannya terasa manis dinikmati orang-orang di sekelilingnya. Dia benar-benar menjadi cerminan hadits Rasul; khairunnas ‘anfauhum linnas.

Bagaimana seseorang benar-benar memiliki buah akhlaq yang manis? Tanda yang paling sederhana adalah kita selalu merasa aman dan nyaman bersamanya. Segala sesuatu yang ada pada dirinya sangat lekat dengan makna manfaat. Diamnya. Bicaranya. Senyumnya. Tangisnya. Sabarnya. Sakitnya. Gembiranya. Bahkan tidurnya. Hidupnya. Bahkan matinya. Semuanya bermanfaat. Semuanya manis.

Tentu kita akan merasa jauh dari deskripsi di atas. Namun, jikalah kita belum bisa memberikan buah manis setiap musim, setidaknya kita tidak menumbuhkan duri atau racun.

“Seorang mukmin adalah seseorang yang orang lain senantiasa
merasa aman dari lisan dan  tangannya.”

(HR Bukhari)

Dan, mari kita berlindung kepada Allah dari kelalaian dalam merawat pohon di dalam diri kita… karena efeknya ternyata tidak main-main.

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk,
yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.”

(QS Ibrahim [14]: 26)

 

 

Inspirasi: Fillah, Salim A. 2015. Menggali ke Puncak Hati, halaman 138-139. Pro-U Media. Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *