Ketika Manusia Gagal Fokus

Diangkat dari kisah nyata. Suatu ketika ada seorang wanita paruh baya yang datang mengadukan kegundahannya kepada seorang ustadz. Wanita ini sungguh sedang mengalami kemalangan yang luar biasa, karena rahimnya beberapa waktu yang lalu harus diangkat pasca terjadinya pendarahan yang serius.

Dengan berderai air mata wanita ini menumpahkan segala perasaannya yang hancur kala itu.

“Ustadz… Tolong saya…! Hidup saya sudah benar-benar hancur. Sudah telat menikah, lalu telat mempunyai anak, lalu sekarang harus kehilangan bagian yang paling berharga dari perempuan…! Saya sudah tidak kuat, ustadz!”

Menyimak kata-kata yang keluar dan ekspresi yang ditunjukkan wanita itu, sang Ustadz pun hanya bisa mendengarkan dan merespon sedapatnya.

“Ibu, saya turut bersimpati atas apa yang ibu rasakan. Sebagai seorang laki-laki mungkin saya tidak bisa merasakan apa yang ibu rasakan, namun saya paham, pasti ini berat bagi ibu–”

“BERAAAAT, ustaaadz. Bayangkan ustadz, yang diambil itu rahiim… RAHIIIM ustaadz… Ya Allaah…”

Semakin berat pula sang ustadz untuk merespon. Namun setelah tangisannya agak mereda, sang ustadz kembali berujar.

“Yang diangkat rahim bu?”

“Iya,  ustaadz, rahiim ustadz..”

“Sekarang saya boleh tanya? Kalau jantung ibu bagaimana?”

“Alhamdulilah ustadz… normaaal, tak ada apa-apa, sehat!”

“Maaf, bu. Kalau paru-parunya?”

“Aaah, paru-paru juga normaal, sehaat alhamdulillah, ustadz!”

“Ginjalnya?”

“Ih ginjal juga alhamdulillah normal!”

“Oh begitu ya, alhamdulillah kalau begitu.”

“Iya, ustadz, alhamdulillah, hanya rahim saja yang diambil.”

Lalu sang ibu itu pun pamit undur diri dan pergi.

***

Apa yang Anda dapatkan dari percakapan itu?

Sungguh, hidup kita kadang diwarnai dengan kegagalfokusan. Setitik hal yang tak indah menurut pandangan kita benar-benar bisa merusak hari-hari indah yang Allah karuniakan. Setitik jerawat di muka bisa melupakan kita atas nikmat hidung dan wajah yang masih ada di tempatnya dan berfungsi dengan semestinya. Sebuah gigi yang sakit menjadi penghalang kita mensyukuri deretan gigi lainnya yang masih dikaruniai kesehatan. Satu masalah bisa membuat kita buta atas segala kemudahan yang selama ini Allah berikan hingga kita menjadi kita yang sekarang.

Tampaknya kita perlu mengkalibrasi ulang lensa kehidupan kita, agar bisa menangkap nikmat-nikmat Illahi yang tersembunyi di balik problema dan ujian yang hanya setitik. Lalu mensyukurinya, agar nikmat itu semakin bercitarasa, sehingga problema tak lagi menjadi problema

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *