Jejak Kepemimpinan yang Menyejarah di Jumadil Akhir

Bulan Jumadil Akhir kan segera berakhir. Tak terasa Rajab sudah di depan mata. Lalu Sya’ban. Kemudian Ramadhan. Mari berdoa selalu agar Allah kurniakan keberkahan lalu usia kita disampaikan pada bulan Ramadhan yang mulia.

Mungkin jarang ada orang yang membicarakan bulan Jumadil Akhir. Padahal jika kita coba tarik garis sejarah ke belakang, ada suatu peristiwa yang sangat perlu kita ingat; terlebih di zaman ketika kita merindukan sosok pemimpin terbaik. Mari kita tengok seribu empat ratus lebih tahun yang lalu, di mana generasi terbaik masih hadir memimpin dunia ini.

Tercatat kabar duka di bulan Jumadil Akhir tahun ke-13 Hijriyah. Salah satu sahabat terbaik Rasululullah SAW; Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang ketika itu diamanahi sebagai khalifah pertama di era khulafaur rasyidin, meninggal dunia. Dan sesuai wasiat Abu Bakar, Umarlah yang didaulat untuk menjadi khalifah selanjutnya.

Yang menarik untuk kita perhatikan adalah bagaimana sosok Umar menyampaikan ‘sapaan’ pertamanya sebagai seorang khalifah kepada ummatnya…

Setelah bertahmid, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, lalu beliaupun menyebutkan tentang Abu Bakar beserta jasa-jasanya. Kemudian, pidato menyejarah itu pun dimulai:

Saya hanyalah salah seorang dari kalian.

Kalau tidak karena segan menolak tawaran Khalifah Rasulullah (Abu Bakar) saya pun akan enggan menerima amanah ini.

Umar mengucapkannya dengan rasa haru, rendah hati, dan sangat berhati-hati.
Kemudian beliau menengadahkan tangannya seraya berkata,

Allahumma yaa Allah, aku ini sungguh keras; maka lunakkanlah hatiku.

Allahumma yaa Allah, aku ini sangat lemah; maka berilah kekuatan.

Allahumma yaa Allah, aku ini kikir, maka jadikanlah aku orang dermawan dan bermurah hati.

Umar berhenti sejenak, lalu beliau melanjutkan setelah orang-orang tenang,

Allah telah menguji kalian dengan saya, dan menguji saya dengan kalian.

Sepeninggal sahabatku, sekarang saya berada di tengah-tengah kalian.

Tak ada persoalan kalian yang harus saya hadapi lalu diwakilkan kepada orang lain selain saya.

Dan tak ada yang tak hadir di sini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat.

Kalau mereka berbuat baik, akan saya balas dengan kebaikan. Tetapi jika melakukan kejahatan, terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka.

Wahai umat Muhammad, saya telah diangkat sebagai pemimpin kalian. Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya menjadi orang yang terbaik di antara kalian, orang yang terkuat bagi kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan.

Ada kalimat yang perlu kita perhatikan; Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan. Sungguh pikiran pemimpin yang satu ini benar-benar berorientasikan ukhrawi; tentang hal yang akan Allah tanyakan pada dirinya di akhirat nanti. Baginya kehormatan tak terletak pada pangkat atau kedudukan, tapi pada keberhasilan meraih keridhaan Allah. Hal-hal yang datang pada dirinya waktu itu Umar anggap sebagai ujian. Ia senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk dan keselamatan dalam melewati ujian-ujian itu.

Dalam perjalanannya sebagai khalifah pun, alih-alih berbangga, Umar bin Khatthab menjalaninya dengan perasaan takut kepada Rabb-nya. Apa yang beliau sampaikan pada pidato hari pertama pelantikannya benar-benar terimplementasikan secara nyata dalam seluruh hari-harinya sebagai seorang khalifah, hingga Umar menghadap Rabb-nya dengan kondisi diridhai-Nya dan dia ridha kepada-Nya.

Semoga di era akhir zaman ini, kita dikaruniakan pemimpin yang mendekati sosok-sosok generasi terbaik itu. Dimulai dari memperbaiki diri tanpa henti, agar kita pantas mendapatkan sosok sedemikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *