7 Indikator Kebahagiaan Menurut Ibnu Abbas

Sahabatku, tidak ada orang yang tidak ingin bahagia. Bahagia di akhirat dan juga di dunia. Tak heran doa untuk meraih kedua hal itulah yang mungkin paling sering kita dawamkan; rabbana aatina fiddunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar… Doa yang sering dijuluki doa sapu jagad itu seakan-akan mencakup seluruh harapan kita kepada Allah ‘azza wa jalla.

Banyak orang yang telah berbicara tentang kebahagiaan, termasuk salah satu sahabat Rasul yang bernama Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Dia telah hafal al Quran sejak umur 9 tahun dan pernah didoakan khusus oleh Rasulullah; “Allahumma faqqahu fiddaini wa a’lamhut ta’wila” (Yaa Allah berilah kepadanya pemahaman tentang agama dan ajarilah dia tentang takwil.)

Suatu waktu beliau pernah ditanya oleh para tabi’in tentang apa yang dimaksud kebahagiaan dunia. Ibnu Abbas menjawab ada 7 indikator kebahagiaan yang perlu kita cermati:

  1. Qalbun syaakirun (hati yang selalu bersyukur)

Kunci pembuka kebahagiaan adalah bersyukur. La insyakartum la aziidannakum; jika kita bersyukur, maka nikmat itu bertambah. Itulah logika sederhana yang patut kita senantiasa pegang. Buktinya banyak. Mungkin Anda pernah menikmati makanan khas sunda dengan alas daun pisang, lalu ditemani ikan asin, sambal terasi, tumis kangkung, lalu Anda pun berujar “Alhamdulillah, nikmat banget!”. Makanan itu mungkin tak semahal ketika kita makan di restoran, namun rasa nikmat itulah yang memberi nilai lebih, dan rasa nikmat itu buah dari rasa syukur.

Bersyukurlah mulai dari hal-hal yang kita rasakan secara sadar. Lalu selanjutnya kita tingkatkan untuk menafakuri segala yang telah Allah karuniakan kepada kita; mulai dari anggota tubuh yang masih normal, udara yang masih bisa dihirup, keluarga yang harmonis, lingkungan yang baik, dan lain-lain. Tak perlu kita terjebak pada gaya hidup yang selalu membuat kita merasa kurang, bahkan bisa membuat kita terjebak pada utang. Rasakanlah perbedaannya.

Rasa syukur bisa dicurahkan dengan berbagai cara. Lafaz hamdalah adalah salah satu jawabnya. Namun, jika kita merasa tidak cukup, mari manfaatkan berbagai nikmat itu sebagai modal amal shalih untuk mengundang rahmat-Nya.

  1. Al azwaju shalihah (pasangan yang shalih(ah))

Tema cinta terhadap manusia adalah hal yang takkan pernah habis diperbincangkan. Sebagai agama yang sangat memperhatikan fitrah manusia yang satu ini, Islam pun memberikan domain khusus untuknya: pernikahan. Kebahagiaan mereguk nikmatnya cinta terhadap pasangan akan lebih terasa ketika dia adalah orang terbaik yang dikaruniakan Allah kepada kita. Terbaik karena dia adalah sosok yang shalih(ah), terjaga, dan mau membingkai rumah tangga dengan penuh keberkahan menuju keridhaan-Nya.

Bersyukurlah jika Anda sudah dikaruniai pasangan yang seperti itu, dan jangan pernah berhenti untuk terus mengenalnya. Menikah adalah proses ta’aruf seumur hidup. Semakin kita mengenal pasangan kita, semakin terbuka jalan peningkatan kualitas diri Anda dan pasangan dari waktu ke waktu. Ketika pernikahan bisa kita jadikan wahana leveling up, bukankah itu adalah hal yang hebat?

  1. Al auladun abrar (anak-anak yang patuh)

Sebelum terjebak dalam romantika yang berlebihan, jangan lupa bahwa ada salah satu kunci kebahagiaan lain selain pasangan yang kita cintai; anak-anak. Diamanahi anak-anak yang shalih adalah karunia yang tak terhingga nilainya. Anak berpotensi menjadi penyelamat sekaligus pembuat celaka orang tua di dunia dan akhirat. Maka, mari kita berikan tarbiyyah terbaik bagi putra-putri kita dengan bingkai teladan, akhlak, dan iman. Namun ingatlah bahwa kita pun selamanya akan berstatus anak bagi orang tua kita. Meskipun kebaikan kita takkan pernah sepadan dengan kebaikan orang tua kepada kita, namun teruslah berbuat baik kepada mereka. Jika orang tua telah wafat, tetaplah berbakti dengan doa-doa terbaik dan sambungkan tali silaturahim dengan kerabatnya.

  1. Al bi’atu shalihah (lingkungan yang baik)

Lingkungan sangat berperan dalam proses pembentukkan diri kita. Suatu kebahagiaan yang besar ketika kita dikelilingi orang-orang yang selalu bisa menjadi jalan peningkat iman kita, karena kita akan lebih mudah untuk selalu condong pada kebaikan.

Maka dari itu beberapa kali Rasulullah SAW menyampaikan kepada kita agar hati-hati dalam memilih lingkungan. Bahkan beliau pun berpesan perhatikan tetangga kita sebelum membuat rumah; “al jaar qabla daar”. Mari ikhtiyarkan diri kita untuk menemukan lingkungan seperti itu, agar kebahagiaan itu benar-benar hadir dalam diri kita melalui lingkungan terbaik.

  1. Al maalul halaal (harta yang halal)

Parameter harta dalam islam bukanlah tentang jumlahnya, namun halal dan berkahnya. Ketika harta yang kita konsumsi halal, dampaknya adalah doa-doa yang makbul. Rasulullah pernah bertemu dengan seseorang yang berdoa dengan mengangkat tangannya penuh harap, hingga Nabi pun menyampaikan “Kamu berdoa dengan baik, namun sayangnya makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggalnya didapatkannya dengan cara yang haram, lalu bagaimana doanya dapat dikabulkan.” Kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang senantiasa teliti menjaga kehalalan hartanya, karena doanya semakin makbul dan membuat hatinya menjadi bersih. Harta yang didapat dengan cara yang halal pun dapat memancing keberkahan muncul. Salah satu cirinya adalah bertambahnya manfaat dari harta yang kita punya. Tidak hanya manfaat bagi diri kita saja, namun juga bagi orang-orang yang ada di sekitar kita.

  1. Tafaqquh fid diin (paham agama)

Siapa insan yang tak bahagia jika dikaruniakan pemahaman terhadap agama? Inilah kabar gembira yang Rasulullah sampaikan melalui haditsnya, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah padanya kebaikan, maka Ia akan memahamkannya agama.” Hidupnya menjadi teduh dan meneduhkan, karena dia mengetahui apa tujuan dia diberikan kehidupan oleh Rabbnya. Tak hanya jasad saja yang hidup, namun hatinya pun menjadi lebih hidup. Hati yang hidup akan senantiasa memancarkan sinaran iman yang menentramkan. Maka, mari kita perkuat ‘azzam kita untuk memahami agama Allah ini untuk meraih kebahagiaan hakiki.

  1. Barakatun fii umuurika (umur yang berkah)

Seperti makna barakah, yaitu ziyadatul khair; bertambahnya kebaikan. Ketika seiring usia berkurang semakin luas manfaat kita, semakin baik pribadi kita, semakin dekat diri kita kepada Allah, semakin kuat tekad kita menjauhi kesia-siaan, semakin bersemangat kita mendekati majelis-majelis ilmu, itu adalah tanda-tanda berkahnya usia kita. Tak jarang banyak orang-orang yang semakin tua lalu mengalami post power syndrome; keadaan di mana seseorang lebih banyak mengenang masa mudanya dan tidak produktif di masa senja. Semoga kita tak terjebak pada nostalgia, namun selalu mengisi persiapan kematian terbaik dengan berkah-berkah yang terkarunia di sela-sela berkurangnya usia.

Setelah mengetahui 7 hal ini, lalu apa yang akan kita lakukan? Semoga kita benar-benar mendapatkan kebahagiaan hakiki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *