3 Tanda Pembelajar Sejati

Setiap diri kita sejatinya adalah pembelajar. Hal itu bisa kita sadari sedari kita membaca wahyu pertama yang turun kepada Nabi kita Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril; Iqra! Bismirabbika alladzii khalaq. Perintah membaca ini tentu tak terbatas hanya dalam hal-hal tekstual saja, namun seluruh hal di alam semesta ini sesungguhnya adalah objek baca kita.

Menjadi pembelajar pun insya Allah akan membuat kita dekat dengan surga. Benarkah? Bukankah Rasulullah sudah menyampaikan pada kita? “Segala sesuatu pasti ada jalannya, dan jalan menuju surga adalah ilmu.” Jadi, memilih jalan pembelajar adalah pilihan yang tidak buruk. Menjadi seorang yang berilmu bisa menjauhkan kita dari kebodohan dan kesombongan, bak padi yang semakin merunduk ketika dia semakin berisi.

Untuk itu, mari kita munculkan tiga tanda dalam diri kita, agar kita bisa menjadi pembelajar di mana pun, kapan pun, dan ketika menghadapi siapapun. Saatnya patrikan tiga hal berikut ini:

  1. Setiap orang adalah guru

Semua orang yang kita temui adalah guru bagi kita. Siapapun dia; bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua. Apapun profesi atau status sosialnya; kuli bangunan, pengemudi becak, pengemudi angkot, karyawan, buruh, direktur, ulama, bahkan orang gila sekalipun. Ketika kita memposisikan diri menjadi murid di hadapan mereka, sungguh kita akan menjadi seumpama gelas yang diletakkan di lebih rendah dari botol yang berisi air jernih; mudah untuk dituangkan hingga penuh tanpa tumpah. Ketika kita sulit menganggap mereka sebagai guru, sebijak apapun hal yang mereka sampaikan kepada kita takkan bergeming dan berbuah manfaat sedikit pun bagi kita.

  1. Setiap tempat adalah kelas

Di mana pun kita berada, di sanalah kelas kita, tempat kita menyelami samudera ilmu. Rumah, tempat kerja, rumah sakit, taman kota, bibir pantai, halte bis, sawah ladang, kampus, puncak gunung, bahkan kandang hewan, itu semua adalah sumber-sumber hikmah yang bisa kita petik jika memang sinyal kepekaan hati kita senantiasa kuat. Cobalah tadabburi hal-hal yang kita lihat di mana pun, maka hal yang biasa pun akan menghadirkan makna yang tak biasa.

  1. Setiap peristiwa adalah ilmu

Tentu kita yakin bahwa tak ada satu pun peristiwa yang Allah hadapkan pada kita melainkan pasti ada maksud dan nilai di baliknya. Jika keyakinan ini sudah begitu kuat terpatri, tentu apapun hal yang terjadi kita akan selalu menyimpan pertanyaan “Apa hikmahnya ya?”. Saat kehilangan sepatu di masjid, kita lebih sibuk mencari hikmah dibanding meratapi dan berserapah. Ketika kita lulus ujian masuk perguruan tinggi, kita lebih sibuk mencari pelajarannya daripada heboh dengan euphoria yang hanya sesaat. Percayalah, dengan pola seperti ini, tak ada peristiwa yang akan Anda sia-siakan karena semuanya begitu berharga; dapat membuat kita menjadi lebih bijak dan takjub akan kekuasaan dan kesempurnaan Allah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *