2 Lifeskill Penting Agar Hidup Bahagia

Inspirasi

Sahabatku, sudahkah Anda merasa bahagia hidup di dunia ini? Apapun jawaban Anda, simpanlah terlebih dahulu sambil berlatih menguasai dua lifeskill penting ini. Insya Allah, dengan dua kemampuan ini, hidup Anda akan lebih terasa ringan dan bahagia.

  1. Taubat

Ketidak-tenangan adalah musuh dari kebahagiaan. Ketika hidup kita tidak tenang, periksalah diri kita dengan cermin yang paling jujur. Sangat boleh jadi masih ada dosa-dosa yang belum ditaubati, karena demikianlah karakteristik dosa; membuat hati tak tenteram dan takut jika terungkap oleh orang lain. Tentu saja, taubat adalah solusi yang paling solutif.

Ketika kita sudah berniat untuk bertaubat, perhatikanlah syarat dan ketentuannya:

  1. Menyesal; tanpa penyesalan dan rasa bersalah, bagaimana mungkin kita mampu mengakui bahwa kita bersalah? Kondisikan hati kita agar benar-benar mendapatkan feeling guilty ini, karena perasaan itu adalah kunci untuk membuka gerbang taubat.
  2. Memohon ampun secara eksplisit kepada Allah; ini adalah bagian dari pengakuan kesalahan. Ungkapkanlah secara eksplisit dan penuh penyesalan, seperti Nabi Adam ‘alayhisalaam yang mengungkapkan satu kalimat yang diabadikan dalam Al Quran agar dapat kita juga amalkan, rabbana zhalamna anfusana wa illan taghfirlanaa, wa tarhamnaa, lanakuunanna minal khaasiriin.
  3. Berhenti melakukan maksiyat; ini adalah konsekuensi pertaubatan kita. Berusaha istiqamah menghindari maksiyat adalah bukti keseriusan kita atas taubat yang kita sampaikan. Dengan senantiasa meminta pertolongan Allah agar dicegah dari perbuatan-perbuatan sedemikian, insya Allah kita diberi kekuatan untuk itu.
  4. Memperbanyak berbuat kebaikan; karena hal ini dapat menguatkan keimanan kita. Mengiringi perbuatan buruk yang telah terukir dengan perbuatan-perbuatan yang shalih insya Allah dapat mendatangkan rahmat dan ampunan Allah.

Kadang Allah SWT mengaruniakan banyak hal untuk memancing kita segera bertaubat. Misalnya dengan dihadirkan-Nya peristiwa yang tak kita inginkan. Tentu kita patut mencurigai diri sendiri ketika hal itu muncul, karena pasti apa yang kita tanam akan kita tuai. Ketika ada hal-hal yang tak menyenangkan hadir, ini adalah momentum kita untuk kembali bercermin diri, ada dosa apa yang pernah kita lakukan, dan segera menghapusnya dengan beristighfar. Ternyata hal yang tak kita suka bisa berbuah manis juga, jika kita sikapi dengan baik.

  1. Syukur

Tak diragukan lagi, inilah sikap yang bagaikan bumbu pembangkit cita rasa kenikmatan dan juga gerbang menuju kebahagiaan. Sungguh banyak hal yang bisa kita syukuri dalam kehidupan ini, bahkan terlalu banyak. Sialnya seringkali manusia terjebak dengan melihat apa yang tidak ada. Melihat orang lain bergelimang harta sedangkan kita tidak. Melihat orang lain bisa jalan-jalan ke luar negeri sedangkan kita belum bisa. Melihat orang lain membawa pulang slip gaji yang tebal sedangkan kita ‘seadanya’. Sungguh jika kita melihat itu semua dengan kacamata syukur, semuanya akan berubah menjadi sangat manis. Ternyata di balik harta yang sempat kita pikir ‘seadanya’, seorang suami masih bisa memberikan isterinya pakaian baru setiap 2 bulan sekali, membiayai 5 anaknya sekolah hingga perguruan tinggi, rutin mengirimkan uang kepada orang tuanya; ternyata Allah sesungguhnya karuniakan kecukupan. Ternyata di balik tak bisanya sebuah keluarga jalan-jalan, mereka bisa tetap bahagia dengan membuat lahan belakang rumahnya menjadi area bermain yang tak menjemukan bagi isteri dan anak-anaknya. Ternyata di balik slip gaji yang tak terlalu tebal, sebuah keluarga pada momen-momen yang tak terduga menerima rezeki dari sumber-sumber yang juga tak terduga. Bukankah hal-hal baik yang dikemas dengan kejutan itu membahagiakan? Bukankah kesederhanaan yang membuahkan senyum adalah kebahagiaan pula?

Selain hal-hal itu ternyata kita pun perlu bersyukur ketika menerima hal-hal yang tak kita suka, seperti ketika aib kita terbeberkan.

Serius?

Ya. Jika itu justru membuat kita semakin sadar akan kekhilafan kita selama ini, dan mengarahkan kita untuk semakin dekat dan taubat kepada Allah, bukankah ini adalah sebuah karunia besar? Yang kita dapatkan bukanlah aib yang tertutup, namun aib yang terhapuskan. Bukankah itu yang sesungguhnya kita harapkan? Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Tak perlu tunggu momen tertentu untuk bersyukur, karena segala hal yang Allah hadirkan pada kita bisa kita syukuri.

Dengan dua lifeskill ini, mari kita raih kebahagiaan hakiki di dunia, dan tentu saja di akhirat nanti

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *