Reframing Peristiwa

Menghadapi kehidupan yang dinamis tentu dapat membuahkan beragam cara pandang. Satu peristiwa dapat dianggap musibah ataupun anugerah. Tergantung kita memilihnya.

Apakah sesederhana itu? Jika kita melihatnya dengan ilmu neuro linguistic programming (NLP), hal itu benar adanya. Menurut ilmu NLP, segala peristiwa adalah netral. Peristiwa-peristiwa itu mulai memiliki cita rasa ketika seseorang menempelkan label tertentu atasnya. Apakah itu label positif; ‘membahagiakan’, ‘menyenangkan’, ‘tantangan’, dan lainnya; ataukah sebaliknya; ‘menyedihkan’, ‘menyebalkan’, ‘musibah’, dan lainnya. Contoh sederhananya, ketika kita sering jatuh saat belajar sepeda, kita bisa memberikannya label “Aku lelah, aku sakit, aku ingin berhenti.” atau “Ini adalah bagian dari proses belajar. Aku harus terus berjuang.”

Bagi kita yang mengaku muslim, label yang perlu kita yakini adalah ‘setiap peristiwa pasti tidak ada yang sia-sia’. Selalu ada pelajaran di balik setiap momen. Meskipun memang pada momen-momen tertentu kita tak bisa menahan spontanitas emosi kita membuncah, namun itu adalah manusiawi. Yang membuat tak lagi manusiawi adalah ketika kita terus menerus mengikuti apa yang diinginkan oleh emosi. Emosi yang sesungguhnya telah terkuasai hawa nafsu.

Agar kita tetap bertahan dalam kemanusiawian meskipun masalah-masalah terus mendera, tampaknya kita perlu belajar untuk melakukan reframing; mengubah bingkai agar kita memandang sesuatu hal yang baru dari sebuah kejadian. Ketika ada hal-hal yang menyesakkan, cobalah memandangnya dari sebuah sudut yang lain. Contoh kecilnya, ketika seseorang mengalami kejadian tidak lulus kuliah, frame kegagalan dapat dia ubah menjadi frame peluang, “Mungkin ini adalah jalanku menapaki jalan berwirausaha sebagai pembuktian bahwa saya bukan orang yang gagal.” Cara pandang seperti itu dapat membantunya lebih cepat bangkit dari keterpurukan dibandingkan menuruti hawa nafsunya untuk ‘berkabung’ lebih lama.

Memang mengubah frame tidak semudah mengedipkan mata. Namun seperti pepatah, “Alah bisa karena biasa.”, ini bisa kita biasakan. Kemampuan reframing dapat membantu kita untuk tidak terlalu larut dalam suasana dan terus melangkah menuju perbaikan diri tiada henti.

Meskipun istilah reframing dikenalkan melalui ilmu NLP, sesungguhnya 14 abad yang lalu Nabi kita ﷺ telah memperkenalkannya dalam kemasan hadits yang sungguh indah,

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Seluruh kejadian yang menimpa kita secara menakjubkan dapat menjadi baik. Ya, seluruhnya. Frame syukur dan sabar tinggal kita perankan sesuai dengan situasi yang tepat. Maka, tak ada yang kita dapatkan di dunia ini selain kebaikan. Selamat ‘memainkan’ bingkai kehidupan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *