Madina al Quran

Tiga tempo membaca al Quran

Tilawah adalah kebutuhan ruh. Ketika satu hari saja kita tidak menunaikannya, maka keringlah hati. Maka dari itu, merutinkan tilawah setiap hari adalah keperluan yang harus diprioritaskan.

Banyak cara kita menikmati aktifitas tilawah. Jika kita mempunyai waktu yang lapang, kita dapat membacanya dengan pelan dan lambat. Namun ada kalanya ketika bulan Ramadhan misalnya, untuk mengejar satu juz per hari, kita membacanya dengan sangat cepat. Namun pernahkah kita bertanya, seberapa cepat kah tempo yang diperbolehkan untuk membaca Al Quran?

Pada dasarnya kita boleh membacanya sesuai dengan apa yang mudah bagi kita. Kita pun bisa menyesuaikan tempo bacaan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Syaratnya, bacaan kita telah memenuhi kaidah-kaidah yang berlaku di dalamnya.

Al Imam Ibnul Jazariy berkata dalam Thayyibatun Nasyr:

“Dan Al Quran dibaca dengan tahqiq, dan hadr, dan tadwir; dan semuanya ber-ittiba’ (ada sandarannya dari Rasul). Dengan suara yang bagus dari dialek Arab, dengan tartil dan tajwid dengan bahasa Arab (yang fasih).”

Berdasarkan apa yang disampaikan oleh Ibnul Jazariy, ada tiga tempo tilawah yang dapat kita gunakan:

  1. Tahqiq; adalah membaca Al Quran dengan tempo yang lambat dan suara yang jelas sambil benar-benar menyempurnakan serta menjaga hak dan mustahak huruf. Membaca dengan tahqiq afdhal dan sangat baik dalam proses kegiatan belajar mengajar. Anda bisa mendengar contoh bacaan tahqiq melalui bacaan Syaikh Mahmud Khalil Al-Hushari yang sudah tersebar rekamannya. Qari lainnya yang dapat menjadi referensi tempo tahqiq adalah Syaikh Abdullah Ali Bashfar versi Mujawwad.
  2. Tadwir; adalah membaca Al Quran dengan tempo sedang, yakni berada di antara tahqiq dan hadr. Bacaan dengan tempi ini biasanya digunakan dalam shalat lima waktu. Contoh bacaan dengan tempo ini adalah tilawah Syaikh Misyari Rasyid Al Afasy atau Masayikh lain yang sudah banyak tersebar rekamannya. Rata-rata rekaman murratal Al Quran juga menggunakan tempo ini.
  3. Hadr; adalah membaca Al Quran dengan tempo cepat sambil tetap menjaga hukum-hukum tajwid dengan sempurna. Anda perlu berhati-hati dari mengurangi hak dan mustahak huruf, meninggalkan ghunnah, tidak memanjangkan mad, atau merusak harakat. Bacaan dengan tempo ini biasanya digunakan saat tadarrus pribadi atau bacaan dalam shalat tarawih karena rakaat yang panjang, sehingga tempo bacaan dipercepat untuk memberikan keringanan pada makmum. Contoh bacaan hadr yang dapat dijadikan referensi adalah bacaan Syaikh Su’ud Asy-Syuraim atau Syaikh Abdurrahman As-Sudais.

Mungkin kita pun sering mendengar istilah tartil dalam Al Quran Surat Al Muzammil ayat 4, “…dan bacalah Al Quran dengan tartil.”. Tartil sendiri bukanlah termasuk tingkatan tempo membaca Al Quran, melainkan sifat yang mesti dijaga bersamaan dengan ketiga tingkatan tempo di atas. Makna tartil sendiri menurut Ali bin Abi Thalib (dalam Nihayatu Qaulil Mufid halaman 16) mencakup dua aspek: tajwidul huruf (mentajwidkan huruf) dan ma’rifatul wuquf (mengetahui kaidah waqaf). Tartil juga bermakna membaca Al Quran dengan pemahaman dan tadabbur sambil menyempurnakan hak dan mustahak huruf dari makhraj dan sifatnya. Karena Al Quran diturunkan untuk dipahami, ditadabbburi, dan diamalkan.

Wallahu a’lam.

Sumber: Tim Asatidz LTI. Tajdiwul Quran Metode Jazary. LTI Bandung.


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

adminMaster

Leave a Comment