stockvault-children132135

Tiga Fakta tentang Anak Kita

Hadirnya buah hati dalam kehidupan kita tentu akan sangat membahagiakan. Tak jarang penantian berbulan-bulan terasa melelahkan namun diiringi juga dengan hati yang berdebar kencang penuh harap. Kita jadi ingat salah satu doa yang termaktub dalam Al Quran,

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al Furqan: 74)

Doa-doa dapat kita bungkus dengan ikhtiar. Dalam doa di atas, kita pun dapat menyempurnakan ikhtiyar, dengan mengimplementasikan harapan kita mel  alui dua aspek.

Aspek Internal

Ada kata qurrata a’yun (penyejuk pandangan dan hati) yang tersurat di dalam doa tersebut. Tentu ketika kita menginginkan anak dan isteri kita sedemikian, pendidikan dan teladan akhlak menjadi prioritas untuk kita galakan di rumah kita, agar segenap anggota keluarga menjadi insan yang shalih(at).

Aspek Eksternal

Selanjutnya ada kata lil muttaqiina imaama. Pemimpin adalah pelayan dan pemberi manfaat. Tentu saja pemimpin akan sangat berkaitan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Terasa sangat kental aspek sosialnya dalam ungkapan tersebut. Sehingga kita pun perlu melakukan ikhtiyar bersama-sama agar keluarga kita menjadi insan yang dapat menjadi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Kembali kita berbicara tentang buah hati kita. Mereka adalah orang-orang yang kita harapkan menjadi penyejuk hati dan juga pemimpin bagi orang-orang bertakwa. Mereka adalah investasi melalui doa-doa tulusnya untuk kita. Sungguh luar biasa karunia dan nilai seorang anak yang Allah berikan kepada kita. Ini adalah keajaiban yang harus kita syukuri; salah satunya dengan memberikan tarbiyah terbaik kita kepada mereka.

Di sisi lain, ternyata Al Quran dan hadits Rasulullah ﷺ beberapa kali menyampaikan hal-hal yang cukup penting tentang anak-anak kita. Beberapanya adalah tiga fakta berikut.

Anak Itu Kuat

Apakah Anda sering kelimpungan ketika anak-anak seperti tidak pernah lowbat? Lari-lari. Teriak-teriak. Tertawa-tawa. Asik dengan permainannya. Memang anak-anak kita penuh energi, dan energi ini sangat potensial jika kita bisa mengarahkannya pada permainan atau aktifitas-aktifitas yang baik dan bermanfaat. Allah pun telah menggambarkannya dalam ayat berikut:

“Dialah Allah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” (QS Ar-Rum 54)

Anak Itu Bertanggung Jawab

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Diangkat pena (catatan amal) dari tiga orang: yang tidur sampai ia bangun, yang gila sampai ia sembuh, yang masih anak-anak sampai berusia baligh.” (HR Abu Daud)

Suatu saat, akan ada saatnya putra-putri kita melewati gerbang aqil baligh, sebuah masa di mana mereka akan ‘diakui’ pahala dan dosanya oleh Allah. Dan tentu setelah ‘pengakuan’ tersebut, ‘argo’ pahala dan dosa pun akan mulai bergulir. Untuk itu, para orang tua perlu menyadari hal ini dan mempersiapkan diri mereka agar siap bertanggung jawab dengan hidup yang diamanahkannya ini.

Anak Itu Amanah

Anak-anak kita akan mengalami masa-masa muda yang konon katanya ‘berapi-api’. Gelora masa muda ini tentu akan menjadi sebuah potensi yang luar biasa jika kita menanam pondasi keimanan yang kokoh. Karena dalam dinamikanya, anak-anak kita akan bertemu dengan hal-hal yang boleh jadi jauh berbeda dibandingkan zaman kita. Yang jelas, masa muda dari kita, termasuk anak-anak kita pasti akan ditanya kelak di hadapan Allah.

“Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang ia pergunakan dengan ilmunya tersebut.” (HR Al Bazzar dan Ath-Thabrani)

Memahami fakta-fakta seperti di atas adalah perlu, agar kita sebagai para (calon) orang tua sadar bahwa putra-putri kita memiliki potensi kebaikan dan juga potensi terjebak dalam keburukan. Mari kita siapkan generasi terbaik mulai dari sekarang, bahkan mulai dari sebelum mereka terlahir di muka bumi ini; dengan cara memperbaiki diri kita. Selalu.


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

adminMaster

Leave a Comment