39

[CARA MASUK SURGA BAG 39] Sabar Menghadapi Penyakit dan Berbagai Ujian

Atha bin Abu Rabah menuturkan bahwa Ibnu Abbas berkata kepadanya:

“Maukah aku tunjukan salah seorang wanita penghuni surga padamu?” Tentu,” jawabku. Ia bilang, ‘Wanita hitam itu orangnya.” Ia pernah datang menemui Nabi dan mengatakan , “Aku menderita epilepsy, dan auratku terbuka saat kejang- kejang, berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku.’ Nabi menjawab, ‘Jika kau mau, bersabarlah dan bagimu surga, dan jika kau berkehendak lain, aku akan berdoa kepada Allah untuk menyembuhkanmu. ’Aku memilih bersabar, ‘Kata wanita itu. Ia bilang, ‘Auratku terbuka saat kejang- kejang, berdoalah kepada Allah agar auratku tidak terbuka.’ Nabi kemudian berdoa untuknya.”’ (HR. Al- Bukhari)

Ulami membagi sabar menjadi tiga:

Pertama, sabar menjalankan ketaatan kepada Allah.

Kedua, sabar menjauhkan diri dari larangan- larangan Allah.

Ketiga, sabar menerima takdir- takdir Allah, takdir baik maupun buruk.

 

sabar adalah kedudukan yang hanya diberikan Allah kepada mereka yang bertakwa dan takut kepada-Nya, karena sabar adalah kedudukan para Nabi, rasul, ulama dan orang- orang saleh.

Di antara bentuk kesabaran adalah tabah menghadapi penyakit- penyakit berkenaan dengan organ tubuh atau yang lain, seraya mengharap pahala dari Allah. Terlebih jika termasuk sejumlah penyakit yang penanganannya akan kami sebutkan dalam hadits berikut. Dengan bersabar menghadapi penyakit, seseorang akan meraih kedudukan agung dan tinggi.

Ibnu Abbas menuturkan bahwa Nabi bersabda, ‘Umat-umat diperlihatkan kepadaku, lalu ada seorang nabi melintas bersama umatnya. Ada seorang nabi  melintas bersama sejumlah orang, ada seorang nabi melintas bersama sepuluh orang, ada seorang nabi melintas bersama lima orang, dan ada nabi yang melintas seorang diri. Setelah itu, aku melihat ke arah sekumpulan besar orang, aku kemudian bertanya, ‘Wahai Jibril! Apa mereka itu umatku?’ ‘Tidak, tetapi lihatlah ke ufuk!’ kata Jibril. Aku kemudian melihat, ternyata di sana ada sekumpulan besar orang. Jibril berkata, ‘Mereka itulah umatmu. Mereka yang berjumlah 70.000 itu adalah para pemimpin, tidak ada hisab ataupun azab bagi mereka.

Aku bertanya, ‘Kenapa?’

Jibril menjawab, ‘Karena mereka tidak berobat menggunakan besi panas (kay) , tidak meminta diruqyah, tidak merasa sial, dan bertawakal kepada Allah.

Ukkasyah bin Mihsan kemudian berdiri menghampiri Nabi dan berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar memasukkanku ke dalam golongan mereka.’ Nabi mengucapkan, ‘Ya Allah, masukan lah dia ke dalam golongan mereka. Setelah itu orang lain berdiri menghampiri beliau dalam golongan mereka.’ Beliau berkata, ‘Kau sudah didahului Ukkasyah.”’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Tujuh puluh ribu orang tersebut masuk surga tanpa hisab san tanpa azab disebabkan mereka bersabar karena Allah. Mereka bersenang- senang dengan kenikmatan surga. Lebih dari itu, mereka senang bisa melintas shirath tanpa azab dan tanpa hisab, karena siapa pun yang didebat dalam perhitungan amal, ia pasti disiksa. Bisa jadi siksa yang ada bersifat mental karena terasa berat bagi jiwa, dan bisa juga siksa hakiki yang menimpa jasmani serta rohani. Semoga Allah berkenan memasukkan kita ke dalam golongan 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, karena rahmat Allah amat luas, meliputi segala sesuatu, dan rahmat Allah mengalahkan murka-Nya.

Sampaikan berita gembira kepada kaum muslimin dan muslimat, karena disebutkan dalam hadits- hadits lain, setiap seribu di antaranya diikuti 70.000 orang, sehingga total keseluruhan yang masuk surga tanpa hijab dan tanpa azab mencapai 70.000.000. selain itu, semuanya dihisab dan bisa jadi siksa. Mari kita memohon kepada Allah, semoga Dia memasukan kita ke surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Abu Umamah menuturkan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda:

‘Rabbku berjanji padaku untuk memasukkan 70.000 di antara umatku ke surga  tanpa hisab dan tanpa azab, bersama setiap seribu ada 70.000 lainnya, dan tiga cakupan tangan-Nya.’” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dengan sanad sahih).

Cakupan- cakupan tangan merupakan kata kiasan, maksudnya banyak. Kemaksiatan manusia tidaklah berbahaya bagi Allah, ketaatan manusia pun tiada membawa manfaat bagi-Nya. Tetapi Allah menciptakan manusia seperti yang Dia katakana, “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS Al-Mulk: 2)

Jumlah sekian ini tentu saja bisa dibilang tidak seberapa jika dibandingkan dengan jumlah kaum muslimin sejak fajar Islam muncul hingga Allah mewarisi bumi dan siapa pun yang ada di atasnya. Bagaimana tidak dibilang sedikit sementara jumlah kaum muslimin saat ini lebih dari 1.300.000.000 jiwa. Perbandingan ini membuat kita terpacu untuk saling berlomba meraih tempat- tempat di surga, tanpa hisab tanpa azab.

Adakah yang serius? Adalah yang kembali kepada Allah, mengharap rahmat, dan takut siksa-Nya? Adakah yang mau mengikuti kitab Allah dan meneladani sunah rasul-Nya? Silakan anda ukur diri anda dengan kitab Allah dan sunah Rasulullah agar anda tahu apakah anda termasuk mereka yang selamat, ataukah justru mereka yang terkena siksa?

Sabar menghadapi penyakit dengan mengharap pahala Allah merupakan salah satu sebab masuk surga. Bukan hanya sekedar masuk surga, tetapi masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Untuk itu, setiap hamba harus bersabar menghadapi beban berat penyakit, tanpa diruqyah ataupun ditempel dengan besi panas, karena seperti yang dikatakan pepatah, kay adalah pengobatan terakhir, bahkan cara ini dilarang oleh Nabi. Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Sahih nya dari Ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda:

“Kesembuhan itu ada pada tiga pengobatan, yaitu berbekam, meminum madu an kay dengan api, dan aku melarang umatku dari kay.”

Hadis sebelumnya menyebutkan, di antara mereka yang masuk surga tanpa hisab dan azab adalah tidak menempelkan besi panas pada luka, sementara dalam hadis ini Nabi mendorong sekaligus melarang melakukan hal tersebut. Bagaimana cara menyatukan hadis- hadis ini?  Apakah berobat dengan kay ada gunanya, ataukah terlarang?

Yang benar, berobat dengan kay hukumnya makruh, karena menimbulkan rasa sakit dan tidak menutup kemungkinan membahayakan kehidupan seseorang. Itulah kenapa orang Arab bilang, “Kay adalah obat terakhir”

Ibnu Hajar menjelaskan seraya menyatukan dalil- dalil yang memakruhkan dan yang membolehkan, “Cara tersebut (kay) tidak ditinggalkan secara mutlak, juga tidak digunakan secara mutlak, karena mungkin ada penyakit- penyakit tertentu yang hanya bisa diobati dengan cara kay. Menurut pendapat lain, sisi larangan lebih diutamakan dalam hal ini, karena bisa jadi masalah ini sama seperti keengganan Nabi untuk memakan biawak, meski biawak halal. Bisa jadi pula larangan kay sama seperti larangan meminum khamar, meski khamar memiliki sejumlah manfaat, namun membahayakan. Karena sisi bahaya lebih dominan daripada sisi manfaat, Allah pun mengharamkan khamr.

Yang benar, kay tidak haram, tetapi makruh selama tidak diperlukan. Jika diperlukan, hukumnya tidak apa- apa. Cara ini boleh digunakan saat diperlukan. Namun, lebih baik ditinggalkan agar termasuk dalam golongan orang- orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”

Di antara hal lain yang dilarang dalam hadis di atas adalah thairah, yaitu merasa sial. Merasa sial bukan sifat orang mukmin, karena orang mukmin itu selalu merasa optimis. Ahmad Al-Qurasy menuturkan,”Kesialan disebut- sebut di dekat Nabi, lalu beliau bersabda, ‘Yang terbaik adalah optimis, dan tidak menghalangi seorang Muslim untuk melakukan sesuatu yang hendak dikerjakan. Jika seseorang dari kalian melihat sesuatu yang tidak ia suka, ucapkan:

‘Ya Allah , tiada yang mendatangkan kebaikan- kebaikan selain-Mu, tiada yang menangkal segala keburukan selain-Mu, tiada daya (untuk menangkal segala keburukan) dan kekuatan (untuk mendatangkan kebaikan- kebaikan) tanpa (pertolongan)-Mu.’” (HR. Abu Dawud).

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada kesialan, dan yang terbaik adalah sikap optimis.” Abu Hurairah bertanya, “Apa itu optimis wahai Rasulullah?” beliau bersabda, “Kata-kata baik yang didengar seseorang dari kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jika pun ada, rasa sial ada pada tiga hal, seperti disebutkan dalam hadis Sa’ad bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada hewan berbisa (yang menimbulkan bahaya secara sendirinya), tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), dan tidak ada rasa sial. Jika pun ada kesialan pada sesuatu, maka adanya pada kuda yang sulit dikendalikan, istri yang lancang, dan rumah yang sempit.” (HR. Abu Dawud).

Maksudnya, tidak masalah jika seseorang merasa sial pada tiga hal tersebut. Mungkin saja seseorang merasa sial karena rumahnya yang sempit, banyak masalah yang muncul di rumah tersebut, atau mungkin merasa susah saat masuk rumah dan perasaan tersebut hilang saat keluar rumah. Rasa sial seperti ini tidak apa- apa dan yang bersangkutan boleh mengganti dengan rumah lain.

Seperti itu juga dengan istri. Mungkin istri lancang atau tidak taat pada suami, si suami dalam keadaan seperti ini boleh menceraikan wanita seperti itu dengan wanita lain. tidak berbeda dengan tunggangan atau mobil, kadang membutuhkan banyak hal, atau sering terjadi insiden. Semua itu bisa jadi disebabkan karena penyakit ‘ain atau dengki. Si pemilik boleh menjual kendaraan tersebut, dan membeli yang lain. tiga hal ini tidak termasuk dalam kesialan yang terlarang.

Sumber : buku min Asbab Dukhul al-Jannah karya Yahya az-Zahrani (Diterbitkan oleh PQS Publishing tahun 2012, penerjemah Umar Mujtahid, Lc)


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

adminMaster

Leave a Comment