purse and watch isolated on white background

3 Teknik Mengelola Keuangan, AMPUH!

Setiap insan di dunia dikaruniai nikmat hawa nafsu. Ya, hawa nafsu bisa kita pandang sebagai sebuah nikmat ketika cara pandang kita tepat. Bayangkan ketika nafsu ini dicabut oleh Allah, hidup kita takkan lagi bergairah. Tak semangat makan, tak semangat bekerja, tak semangat melayani keluarga; hampa. Kita pun tak punya kesempatan memanfaatkan ladang laga istimewa yang dapat berbuah pahala; mengendalikan hawa nafsu. Tabarakallaahu ahsanul khaliqin.

Memang hawa nafsu pun bisa menjadi masalah tersendiri bagi kita. Terlebih ketika kita tak mampu untuk menjinakannya. Alih-alih kita menguasai, justru kita yang dikuasai. Alhasil, banyak hal-hal kita lakukan berdasarkan pada hawa nafsu lalu bermuara pada kemubadziran, kesia-siaan, kelalaian, dan hal-hal yang tidak disenangi Allah SWT.

Salah satu hal yang sangat rentan dikendalikan oleh nafsu adalah masalah finansial. Ketika masih lajang, keuangan yang dihabiskan secara tidak prioritas mungkin takkan terasa pada jangka waktu yang pendek. Namun jika hal ini menjadi kebiasaan, dapat menjadi ‘petaka’ di masa yang akan datang jika tidak ada kemauan untuk berubah. Berbeda halnya ketika sudah berkeluarga. Suami dan Isteri tampaknya perlu lebih serius untuk mengelola keuangan rumah tangganya, karena hidupnya sudah bukan lagi tentang ‘keakuan’ saja, namun hajat orang yang lebih banyak daripada itu.

Mendaftar Keinginan

Sebelum kita memprioritaskan, kita dapat mendaftar terlebih dulu apa saja keinginan kita (yang bersifat konkrit). Seperti misalnya:

  1. Naik haji
  2. Renovasi rumah
  3. Beli mobil
  4. Beli tanah
  5. Beli gadget baru

Dengan mendaftar seperti itu kita akan lebih mudah memetakan keinginan-keinginan kita, agar tak hanya jadi angan-angan saja. Bahkan boleh jadi ini adalah awal perjalanan kita meraih apa yang kita inginkan.

Bertanya kepada Diri Sendiri

Setelah kita mendaftar seperti tadi, kita bisa bertanya poin-poin ini pada keinginan-keinginan tersebut:

  1. Apakah saya benar-benar membutuhkan benda/hal tersebut?
  2. Apakah membeli benda tersebut menimbulkan kepuasan bagi saya?
  3. Apakah membeli benda ini dimotivasi orang lain?
  4. Apakah membeli benda baru akan menambah pengeluaran saya?

Setelah menjawab pertanyaan itu dengan jujur maka Anda akan lebih mudah memprioritaskan mana yang akan didahulukan, dan menunda bahkan mencoret hal-hal yang tak perlu; setidaknya untuk saat ini.

Pertanyaan yang Pasti Hadir

Selain pertanyaan sederhana di atas, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang telah diwanti-wanti oleh Rasulullah ﷺ dapat membuat kita semakin berpikir untuk memprioritaskan harta kita.

“Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu) (1) tentang umurnya untuk apa ia habiskan? (2) tentang ilmunya untuk apa ia amalkan? (3) tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan? (4) tentang badannya untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)

 

Selamat mencoba :)

 

Sumber referensi: Marriage Management Workshop Mely Rahardjo 24 Januari 2016


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

adminMaster

Leave a Comment